Showing posts with label Life Value. Show all posts
Showing posts with label Life Value. Show all posts

04 April 2009

Masalah = Keuntungan

Oleh : Baguspras

Dimana-mana yang namanya masalah tidak sedikit yang merugikan kita. Bahkan sampai-sampai ada orang yang harus lari dari masalah karena merasa begitu besar dan tidak ada jalan keluarnya.

Tulisan ini mengajak kita memiliki sebuah perspektif untuk menyikapi masalah yang kita hadapi.Jika kita menilai kehidupan ini secara negatif, maka masalah adalah musuh terbesar dalam hidup kita, tapi kita memandang dengan sudut pandang yang positif dan sehat, maka masalah adalah sahabat terbaik yang akan membuat kita naik ke level yang lebih tinggi dalam hidup kita.

Hati-Hati Menjadi Sukses!!!

Oleh : Baguspras

Sebelumnya saya sudah menulis tentang Konsep Pikir Pemalas & Mentalitas Orang Miskin. Saya berharap tulisan ini menstimulus para pembaca untuk bisa meraih kesuksesan.

Kesuksesan juga sebenarnya sebuah pilihan, apakah kita mau persisten & fokus mengejar tujuan kita atau kita menyerah dan berhenti ketika kesulitan dan tantangan menghampiri kita.

30 March 2009

Mentalitas Orang Miskin

Oleh : Baguspras

Miskin atau Kaya adalah sebuah pilihan. Secara pribadi saya kurang setuju dengan istilah "nasib" atau "takdir" karena sebenarnya Tuhan sudah memberikan kemampuan dan potensi untuk bertahan dan bangkit dari kondisi terburuk yang kita alami.

Kadang saya heran dengan orang yang selalu berkata bahwa mereka ditakdirkan sebagai orang miskin, sekarang pertanyaannya...mengapa ada orang-orang sukses yang mempunyai masa lalu hidup dalam kemiskinan bisa bangkit menjadi orang yang berhasil dan kaya?? Berarti pernyataan seperti itu hanya "sebuah" alasan yang dijadikan dasar oleh orang "miskin" tersebut, yang merupakan manifestasi dari "kemalasan" mereka untuk bangkit dan berjuang keluar dari kemiskinan mereka.

Dalam sebuah pandangan (agama) tertentu menyatakan bahwa kemiskinan adalah jalan hidup yang harus mereka jalani sebagai wujud pengabdian mereka kepada kepercayaan/Tuhannya... sekarang pertanyaannya : bagaimana orang lain "MAU" mengikuti jalan hidup mereka utk percaya kpd Tuhan mereka kalau hidupnya penuh kekurangan, selalu minta-minta dan butuh belas kasihan.

Kembali kepada pernyataan saya diatas...kaya atau miskin adalah pilihan kita.

Ada beberapa Mentalitas Orang Miskin yang harus kita buang jauh-jauh :

1. Ogah-ogahan untuk mencoba sesuatu yang baru

Jika ada hal-hal yang baru, orang yang memilki mentalitas ini akan malas untuk mencoba. Padahal didalamnya ada banyak peluang yang bisa diraihnya yang bisa membawa mereka pada keberhasilan.

Bagi orang sukses...mungkin hal tersebut baru dan mereka tidak tahu apa-apa, tetapi dalam tekad mereka, apa salahnya mencoba hal yang baru, kalaupun tidak berhasil toh merupakan pembelajaran bagi mereka...NOTHING TO LOSE...dan kalaupun berhasil, ini merupakan keberhasilan yang belum tentu bisa dialami oleh orang lain.

2. Memiliki 1001 alasan untuk tidak bertindak/berusaha

Sekali lagi, mereka memiliki banyak alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Orang miskin sangat "KREATIF" untuk memberikan alasan-alasan, mereka selalu mengedepankan kelemahan-kelemahan yang mereka miliki sebagai bahan yang dijadikan landasan untuk tidak mengerjakan peluang yang ada didepan mata mereka.

Contohnya : Nggak ada modal lah...terlalu sulit lah...terlalu beresiko lah...saingannya banyak lah...dan masih banyak lagi pertimbangan-pertimbangan yang lain.

Padahal dibalik peluang tersebut ada 1001 jalan dan kreatifitas yang bisa ditempuh meskipun itu sulit, beresiko, mahal dan memiliki banyak saingan.

3. Kalaupun ada usaha yang dilakukan, tidak ada persistensi yang tinggi

Muncul istilah...Yang Kaya Makin Kaya, Yang Miskin Makin Miskin...memang kemampuan orang kaya beda dengan orang miskin sehingga memampukan mereka untuk meraih sesuatu yang mereka harapkan...yang akhirnya bertambah kayalah orang kaya tersebut.

Disinilah letak kesalahannya...orang miskin cepat menyerah dengan kondisi dan keadaan yang menghimpit mereka...nggak salah jika orang miskin semakin miskin.

Saya tidak hanya berbicara masalah uang tetapi juga kemampuan, kreatifitas dan daya juang seseorang.

Orang miskin selalu merasa bahwa mereka tidak mampu, nggak ada sesuatu yang bisa mereka gunakan sebagai kekuatan mereka...yang pastinya selalu berpikir "UNDER ESTIMATE".

Sehingga kesuksesan yang mereka raih adalah "KESUKSESAN SEMENTARA" yang berumur pendek.

4. Terlalu cepat berpuas diri dengan hal-hal yang kecil yang dia miliki

Berpuas diri dan bersyukur adalah sesuatu yang jauh berbeda meskipun tipis secara pengertian.

Kita harus bersyukur dengan kondisi yang kita alami dan atas rejeki yang kita terima tetapi jangan cepat berpuas diri dengan hasil yang sudah kita raih.

Berpuas diri dapat mematikan potensi yang masih kita miliki, yang bisa kita pakai untuk meraih sesuatu yang lebih besar.

Orang sukses bukanlah orang tamak, tetapi orang yang selalu bersyukur dan selalu memiliki keinginan untuk "MENGOLAH" rasa syukur mereka menjadi semangat baru untuk ber-inovasi & berkreasi. Mereka sadar akan potensi mereka sehingga ada sebuah PASSION untuk segera merealisasikan potensi tersebut menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Zona Kenyamanan sebagai tempat yang paling aman yang dimiliki orang miskin...meskipun mereka hidup dalam kemiskinan. Mereka selalu menggunakan kedok "pasrah" untuk menerima kondisi mereka dan selalu berkata "Mengucap syukurlah dalam segala keadaan" tanpa berusaha untuk maju & berkembang meraih apa yang sebenarnya bisa dia raih dan kerjakan.

Akhir kata...seorang bayi tidak dapat menjadi orang dewasa yang bisa berjalan, berlari, melompat & mengekspresikan kemampuan maksimal mereka, jika bayi tersebut hanya tidur ditempat tidurnya yang nyaman sepanjang hidupnya.

Tulisan ini terinspirasi dari Bp. Steven Agustinus.

29 March 2009

Konsep Pikir Seorang Pemalas

Oleh : Baguspras

Berhasil atau tidaknya seseorang ditentukan oleh kualitas dan persistensi seseorang. Kita seringkali mendengar kesaksian dari orang-orang sukses. Ada satu hal yang bisa kita garis bawahi dari kisah sukses mereka yaitu BAHWA MEREKA BUKANLAH ORANG MALAS!!!

Disini saya memberikan beberapa KONSEP PIKIR yang dimiliki oleh ORANG MALAS, yaitu :

1. Mereka lebih suka menikmati hidup daripada menata hidup.

Dalam pikiran mereka adalah sebuah keinginan untuk SEGERA menikmati apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Jika ada kesulitan terkadang orang malas akan mudah putus asa dan merasa MALAS untuk gigih berjuang melanjutkan usahanya.

Padahal dalam kehidupan ini dibutuhkan proses kehidupan yang membutuhkan penataan hidup didalamnya. Orang malas sangat enggan menata hidup, mereka hanya ingin se-segera mungkin menikmati apa yang mereka lakukan tanpa berusaha membangun unsur-unsur/nilai-nilai kehidupan yang dapat membawa mereka pada kesuksesan.

Ada kecenderungan yang dimiliki oleh orang malas yaitu mereka suka OMONG BESAR atau OMONG DOANG tetapi tidak suka melakukan apa yang menjadi ide atau gagasannya. Hanya teori saja...NATO (NO ACTION TALK ONLY).

Ada banyak pembicara inspirational atau pengkotbah yang memiliki kecenderungan ini. Mereka hanya mengetahui secara teori tetapi belum/tidak pernah meng-hidupi prinsip-prinsip yang disampaikannya. Saya katakan mereka ini juga salah satu dari PEMALAS, yang maunya INSTANT tanpa mau menjalani prinsip-prinsip, padahal apa yang ditunggu oleh pendengar mereka adalah buah dari apa yang telah mereka hidupi...jadi kasian banget orang yang sedang mendengar mereka.

2. Mereka akan selalu didapati sedang sibuk mengejar hal yang sia-sia dan berfokus pada hal yang keliru.

Apa yang Pemalas kejar adalah sesuatu yang hanya membuat mereka senang & puas tetapi bukan hal yang utama yang sebenarnya mereka butuhkan.

Dalam hidup mereka terdapat banyak sekali "Wasting Time" & "No-Focus" mengejar hal-hal dan prioritas yang salah...sekali lagi hanya untuk kepuasan mereka sesaat. Padahal ada banyak hal yang berguna dalam hidup mereka yang bisa mereka lakukan, tetapi karena hal itu membutuhkan "pengorbanan", mereka enggan melakukannya.

Sehingga dalam hidup mereka akan banyak sekali peluang yang berlalu begitu saja, tanpa bisa mereka nikmati. Pikirannya tidak berfokus pada kenyataan untuk mewujudkan cita-citanya.

3. Mereka selalu berkeinginan untuk melakukan sesuatu TANPA MEMBAYAR HARGANYA.

Untuk mendapatkan barang dengan kualitas yang bagus, membutuhkan uang yang "bagus" juga. Seorang pemalas sangat malas untuk mengeluarkan sesuatu yang "mahal" untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas. Sekali lagi, maunya INSTANT dan kalo bisa didapat dengan gratis...minimal harganya harus murah.

Orang sukses adalah orang yang mau membayar berapapun harga yang dibutuhkan. Harga waktu, harga tenaga, harga pemikiran bahkan harga finansial mereka keluarkan untuk mencapai apa yg mereka cita-citakan. Orang sukses tahu bahwa apa yang mereka "TABUR" itu akan mereka "TUAI" juga.

4. Mereka selalu terobsesi dengan apa yang telah dicapai oleh orang lain dan berkeinginan untuk dapat ikut menikmatinya secara cuma-cuma.

Mentalitas Gratisan selalu melekat dalam hidup Pemalas. Mereka selalu berkeinginan menikmati keberhasilan orang lain tanpa susah payah. Mereka adalah Parasit bagi orang sukses.

Karena mereka hanya melihat hasil tanpa berusaha belajar dari proses yang dilalui oleh orang sukses tersebut.

Mari kita bangkit dari kemalasan yang mungkin saat ini menghinggapi kehidupan kita. Mungkin saat ini kita gagal dalam menempuh sebuah perjuangan hidup, tetapi sadarilah bahwa kegagalan adalah step untuk kita meraih keberhasilan yang mungkin tidak pernah dialami orang lain.

Jangan jadikan batu yang ada didepan anda sebagai penghalang, tetapi batu tersebut dapat anda pakai sebagai bahan untuk membangun sebuah bangunan yang kokoh dalam RUMAH KEHIDUPAN anda.

Sekali lagi sadarilah...Keberhasilan anda adalah sebuah Keberhasilan yang TERUJI, karena anda sudah LULUS dalam melalui ujian KEGAGALAN anda.

06 September 2008

Siapakah Kita?

Komunitas Blog adalah sekumpulan orang yang melihat sebuah peluang dan kesempatan dalam berbagi sesuatu yang berbau informasi baik intelektual maupun hanya sekedar gosip, baik yang mendatangkan keuntungan ataupun hanya sekedar iseng belaka.

Tapi akhir-akhir ini, komunitas blog di Indonesia bertumbuh dengan pesat seiring semakin banyaknya blog provider & semakin mudah penggunaannya, juga didukung dengan banyaknya peluang untuk mendapatkan "sedikit" dollar yang disediakan oleh para affliator.

Blog berbeda dengan website yang memiliki autorisasi yang rumit. Kalau dahulu banyak orang menawarkan pembuatan website karena sulit dalam ukuran orang awam, tapi kini banyak orang beralih karena disamping simple, juga user friendly dalam pembuatannya.

Para blogger adalah seniman dibalik berubahnya era ini. Sebagai kontributor yang mempengaruhi berbagai macam sisi kehidupan. Oleh sebab itu, banyak blog yang bisa membuat orang marah dan sekaligus membuat orang bahagia.

Ada sisi positif sekaligus negatif kita dapati di perkembangan blog akhir-akhir ini. Disisi mana kita berada, semua tergantung kita.

Kita coba cermati, ada peluang-peluang yang bisa kita bangun dalam blog yang ujung-ujungnya akan mengubah hidup kita bahkan dunia ini.

Kita berharap, sebagai seorang blogger kita bisa membawa pengaruh dengan nilai-nilai & prinsip yang mengubah dari sesuatu yang tidak baik menuju sesuatu yang dapat kita katakan sebagai kesejahteraan bersama.

Sukses Buat Semua Blogger di Indonesia!!!

01 October 2007

Nilai Sebuah Integritas

Oleh : Bagusras

Integritas, sebuah kata yang memiliki makna yang luar biasa, tetapi bagi sebagian orang makna integritas menjadi sepele bahkan bisa ditukar dengan sesuatu yang tidak bermakna.

Bagi saya pribadi, mempertahankan sebuah integritas sama seperti mempertahankan nyawa kita, dengan kata lain, jika kita ingin dipandang bahwa kita masih "hidup" maka jangan mengganti atau menjual integritas kita dengan hal-hal yang sepele agar tujuan pribadi kita tercapai atau terpenuhi. Bila hal itu terjadi, maka orang yang ada disekitar kita akan memandang sebelah mata siapa diri kita bahwa tidak memandang kita sama sekali karena kita dianggap barang mati, yang tidak ada artinya sama sekali.

Dalam paradigma saya, sebuah integritas akan muncul jika orang-orang yang ada disekitar kita mulai mencari kelemahan kita. Mungkin kita bisa berkata, toh aku ini orang hebat yang memiliki banyak talenta, tetapi jangan salah bahwa kebodohan kecil akan menggelinding seperti bola salju dan akan memakan diri kita.

Harus kita sadari, kecenderungan orang yang ada disekeliling kita adalah mencari kesalahan dan kelemahan kita dan orang banyak mengatakan bahwa hal itu adalah suatu hal yang lumrah.

Kita upayakan untuk menanggulangi kelemahan yang dapat menjadi batu sandungan dalam hidup kita seoptimal mungkin. Jangan biarkan orang lain mendapati kita masih berkecimpung dalam kesalahan yang sama. Sebagai manusia kita memang penuh dengan keterbatasan, tetapi kita meminta campur tangan Tuhan menolong kita untuk mengatasinya.

Ingat, membangun integritas membutuhkan waktu bertahun-tahun, tetapi untuk menghancurkan integritas hanya dibutuhkan sebuah tindakan bodoh.

Gagal Adalah Sebuah Keputusan

Pernahkah Anda mengalami, dimana hasil dari usaha Anda tidak sesuai dengan harapan Anda. Pasti pernah. Saya juga pernah. Hal ini mungkin sangat biasa bagi para pebisnis. Target telah ditetapkan, strategi telah dipikirkan masak-masak, rencana telah disusun, dan tindakan pun telah dilakukan. Namun hasilnya? Ternyata tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Kalau hasilnya sama atau melebihi yang kita harapkan tentu tidak apa-apa, tapi kalau jauh dibawah yang kita harapkan, terkadang membuat kita berpikir, yah ... gagal deh.

Tapi sesungguhnya apakah gagal itu? Saya jadi teringat sebuah cerita. Anda mungkin pernah mendengarnya dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, saya ulang saja. Ini tentang seorang dukun Indian tua yang terkenal sangat sukses. Seperti Anda tahu, tugas utama dukun Indian adalah melakukan tarian memanggil hujan. Tidak setiap kali dukun Indian menari akan terjadi hujan, makanya tingkat keberhasilan dukun Indian diukur dari berapa kali hujan terjadi dibanding berapa kali dia menari.

Nah, dukun Indian kita ini tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Setiap kali dia menari, pasti terjadi hujan. Sementara tingkat keberhasilan dukun Indian lain, rata2 hanya 50% – 60%.
Berita kehebatan sang dukun tua tadi sampai ke telinga seorang dukun muda yang sangat berbakat. Dukun muda ini penasaran karena tingkat keberhasilannya baru 70%.
Jadi rata2 dari 10 kali dia menari, tujuh kali berhasil terjadi hujan. Penasaran, dukun muda ini pun memutuskan untuk "apprentice" kepada dukun tua.

Dipelajarinya setiap langkah, gerak, dan mantra yang diucapkan si dukun tua. Dukun muda pun melakukan duplikasi. Bahkan tidak berani ATM – Amati Tiru Modifikasi, tapi ATP - Amati Tiru Persis. Hingga dukun muda pun puas karena sudah bisa menduplikasi tarian pemanggil hujan milik dukun tua. Dukun muda pun kembali ke kampung nya.

Namun, setelah menerapkan seluruh ilmu dukun tua, ternyata tingkat keberhasilannya hanya naik sedikit menjadi 75% masih jauh dari 100%. Dukun muda pun kembali ke kampung dukun tua untuk protes, karena pasti masih ada rahasia yang disembunyikan. Dukun muda pun mendemonstrasikan tarian nya di depan dukun tua.

Dukun tua setelah mengamati mengkonfirm bahwa tarian dan mantra2 dukun muda sudah betul dan tidak ada yg salah. Dukun muda pun semakin bingung, apa perbedaan antara dia dan dukun tua. Dukun muda pun pamit pulang.

Sesaat sebelum dukun muda meninggalkan tenda, dengan mengisap pipa rokoknya dukun tua berkata: "Oh ya, sudahkah aku katakan, bahwa setiap aku menari, aku tidak pernah berhenti hingga hujan datang?" Ya. Tidak pernah berhenti! Itulah perbedaan antara sang dukun yang sukses 100% dengan yang lain.

Keputusan untuk berhenti, atau terus, itulah rupanya gerbang yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan. Ketika Anda menghadapi bahwa hasil yang Anda harapkan tidak sesuai rencana Anda, ada dua pilihan bagi Anda:

- Berhenti, dan mendeklarasikan kegagalan, atau
- Menganggap hasil tadi sebagai feedback untuk merevisi strategi Anda, dan Anda mencoba kembali dengan strategi baru.

Jika Anda memilih gagal, maka pilihan pertama dapat Anda ambil. Sementara orang-orang yang tidak pernah gagal, akan memilih pilihan kedua. Mereka menjadikan hasil yg tidak sesuai harapan tadi sebagai masukan, menyusun strategi baru, dan mencoba kembali. Kalau hasilnya masih tidak sesuai, strategi kembali dirumuskan ulang, dan tindakan baru diambil. Demikian berulang-ulang. Hingga "turun hujan". Jadi gagal, dan juga berhasil, adalah sebuah keputusan. Terserah Anda.

Sumber : http://beranigagal.blogspot.com/

04 September 2007

Apa Itu KESUKSESAN SEJATI?

Transkrip ini dibuat berdasarkan siaran bertajuk 'Successfully Succeded' di radio Heartline 100.6 FM yang mengudara tanggal 2 Agustus 2007, dengan STEVEN AGUSTINUS sebagai narasumber.


Host : Sesuai dengan tema kita sore ini, apa definisi kesuksesan menurut Bapak?
Narasumber : Memang, orang memiliki persepsi dan paradigma yang berbeda-beda tentang kesuksesan, tapi pada dasarnya kesuksesan berarti pencapaian-pencapaian atau prestasi, tujuan hidup, dan pengakuan dari masyarakat luas, yang tentu saja akan membawa perubahan atau peningkatan dalam status sosial. Jadi, jika kita ingin menngetahui apa sebenarnya definisi dari sebuah kesuksesan, saya bisa sebutkan bahwa kesuksesan adalah suatu pengakuan yang diberikan oleh masyarakat luas atas pencapaian-pencapaian yang dilakukan seseorang pada saat status sosialnya mengalami peningkatan, dalam usahanya mewujudkan tujuan hidup yang ia miliki.

Host : Berarti, masyarakat luas akan menilai status sosial seseorang ketika mereka melihat orang tersebut berlimpah secara materi, mengenakan pakaian-pakaian bagus, mengendarai mobil berkelas dan tinggal di rumah mewah. Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini?
Narasumber : Apabila kita menilai sebuah kesuksesan hanya dari pengakuan atas status sosial yang dimiliki seseorang, maka kesuksesan itu hanya menjadi sebuah kesuksesan yang semu. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannya, ada banyak orang yang ingin menjadi sukses atau ingin diakui oleh masyarakat luas sebagai orang yang sukses, tetapi pada akhirnya orang tersebut justru menghalalkan segala cara. Seperti misalnya kita dengar banyaknya kasus penyelewangan dana dan korupsi, yang disebabkan karena ada orang-orang tertentu yang berusaha untuk dapat diakui oleh masyarakat luas sebagai orang yang sukses. Tidak sedikit juga orang yang ingin berpenampilan mewah dan menarik, namun pada akhirnya mereka justru terlilit oleh banyak hutang. Kalaupun masyarakat luas pada akhirnya mengakui mereka sebagai orang yang ‘sukses’, namun karena semua itu diperoleh dari hasil korupsi, hutang sana sini dan tipu menipu, maka itu sebenarnya bukanlah kesuksesan namun lebih merupakan bencana bagi orang yang bersangkutan.

Host : Wah, padahal banyak sekali orang yang melakukan cara-cara seperti ini. Mereka berusaha untuk mengangkat status sosial mereka melalui penampilan.
Narasumber : Sebenarnya itu adalah kesalahan yang paling utama yang banyak dilakukan oleh kebanyakan orang, hanya supaya bisa kelihatan sebagai orang yang sukses. Karena jika kita berbicara tentang kesuksesan sejati, kita hanya perlu belajar untuk mengembangkan kapasitas hidup kita, mengenali apa yang menjadi tujuan hidup kita dan kemudian meleburkan diri di sana, sehingga kitapun akan memiliki kemampuan yang di atas rata-rata dan secara otomatis prestasi akan bermunculan. Dengan kita memiliki banyak prestasi, pengakuan dari masyarakat luas itu dengan sendirinya akan terbangun dan status sosial kitapun akan mengalami peningkatan oleh karena prestasi kita semakin meningkat.

Host : Bagaimana kita bisa menilai bahwa prestasi seseorang baik? Bukankah prestasi itu adalah sesuatu yang abstrak/tidak kasat mata?
Narasumber : Sebetulnya prestasi itu bukanlah sesuatu yang abstrak; prestasi adalah sesuatu yang kelihatan jelas. Contohnya, kita bisa menyatakan seseorang berprestasi atau tidak ketika ketika kita melihat orang tersebut bisa mencapai dengan mudah hal-hal tertentu yang mungkin harus diraih oleh orang lain dengan bersusah payah, karena orang tersebut memiliki kapasitas yang lebih bagus. Di sekolah pun, seorang murid baru bisa dikatakan berprestasi apabila ia memperoleh nilai-nilai yang bagus.

Host : Biasanya pengakuan masyarakat luas juga berhubungan dengan gaya hidup seseorang – ia akan mulai ‘dianggap’ oleh masyarakat setelah ia memasuki suatu level gaya hidup tertentu. Bagaimana menurut Bapak?
Narasumber : Jika kita mencoba untuk membangun opini masyarakat luas dengan cara meningkatkan gaya hidup kita, sebenarnya itu adalah sebuah tindakan kebodohan. Mengapa? Karena sebenarnya masyarakat luas akan secara otomatis memberikan pengakuan atas kesuksesan kita ketika kita bisa memunculkan prestasi-prestasi, dan dengan prestasi kita mulai muncul, status sosial kita juga mengalami perubahan secara alamiah – bukan sesuatu yang dipaksakan.

Host : Berbicara tentang prestasi, apakah prestasi bisa diraih secara instan?
Narasumber : Ya, karena berbicara tentang menghasilkan sebuah prestasi, itu berarti kita harus memiliki suatu kapasitas atau skill tertentu. Kesuksesan yang diraih dengan cara yang instan biasanya diraih dengan menghalalkan segala cara seperti yang tadi sudah kita bicarakan, sehingga akan mengakibatkan hal-hal negatif yang justru akan kita sesali di kemudian hari. Beberapa waktu yang lalu saya sempat memperhatikan ada salah satu acara talk-show di Amerika yang mencoba untuk mengamati salah satu pemulung. Produser acara ini dengan sengaja mempersiapkan sebuah koper berisi uang dalam jumlah yang cukup besar, yang diletakkan di salah satu bak sampah yang sering didatangi oleh pemulung tersebut, sehingga semuanya seakan-akan nampak seperti suatu kebetulan. Memang dalam semalam pemulung itu tiba-tiba menjadi orang yang sangat kaya (menurut dia) dan dia bisa melakukan apa saja dengan uang itu. Akan tetapi, setelah sekian bulan, pengamatan tersebut membuktikan bahwa pemulung tersebut justru memiliki kondisi yang lebih parah dari sebelum dia menemukan uang itu. Dari sini kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa kesuksesan tidak akan pernah bisa kita raih dengan cara yang instan, dan sebaiknya kita tidak pernah berusaha untuk meraih kesuksesan dengan cara yang instan, karena segala sesuatu yang instan selalu akan menciptakan efek samping. Dengan cepat kita bisa menjadi kaya raya dan disebut sebagai orang ‘sukses’, tapi dengan cepat juga kita bisa mengalami kehancuran dan kondisi hidup yang lebih buruk dari sebelumnya.

Host : Apakah faktor usia, pendidikan, atau latar belakang keluarga turut menentukan dalam kesuksesan seseorang?
Narasumber : Ya, semua itu besar sekali pengaruhnya. Misalkan pendidikan; jika kita memiliki pendidikan yang memadai, secara otomatis kita juga memiliki kesempatan-kesempatan untuk bisa lebih sukses dari orang-orang yang tidak berpendidikan, meskipun pendidikan bukanlah satu-satunya faktor yang paling menentukan untuk seseorang dapat mencapai kesuksesan. Pada kenyataannya, ada cukup banyak orang yang punya pendidikan tinggi tapi justru menjadi pengangguran, atau malah bekerja untuk seseorang yang tidak memiliki pendidikan tapi memiliki kemampuan/skill/tekad, dan faktor-faktor lain untuk ia dapat meraih kesuksesan.

Host : Faktor-faktor lain itu apa saja, pak?
Narasumber : Berbicara tentang apa saja yang menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang, mungkin ada beberapa faktor yang bisa saya sebutkan seperti skill atau kapasitas dan kemampuan seseorang. Ini memegang peranan yang sangat penting, karena tanpa adanya kapasitas, skill dan kemampuan, seseorang tidak akan pernah bisa mencapai kesuksesan. Dengan kita memiliki skill dan kemampuan, kita akan bisa dengan mudah meraih prestasi-prestasi tertentu dalam kehidupan kita. Lalu selain faktor skill, ada juga faktor kesempatan. Jika kita hanya memiliki skill tapi tidak ada kesempatan, skill kita juga akan mubazir – kita tidak akan bisa menikmati keberhasilan. Selain faktor kesempatan, dibutuhkan juga fighting spirit atau kerja keras/tekad/kemauan yang tinggi. Faktor berikutnya adalah ketulusan orang yang bersangkutan atau mungkin bisa disebut sebagai nilai-nilai hidup yang ilahi yang dimiliki orang tersebut. Ada banyak orang yang mungkin kurang beruntung untuk bisa mengenyam pendidikan – ia hanya bisa sekolah sampai ke tingkat SMP atau SMU. Tapi karena ia memiliki ketulusan dalam hidupnya, maka ketulusannya itu seakan-akan menuntun dia untuk bertemu dengan orang-orang kunci yang ikut menentukan dia dapat meraih keberhasilannya. Faktor yang terakhir adalah God-factor – ini sesuatu yang tidak boleh kita lupakan; campur tangan Tuhan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan.

Host : Bicara tentang ketulusan tadi, pak, dalam dunia kerja, orang-orang yang tulus justru seringkali dimanfaatkan oleh teman-temannya.
Narasumber : Saya memiliki banyak teman yang bisa saya katakan sebagai orang yang tulus dan memang mereka memiliki sebuah kesaksian hidup bahwa di awal perjalanan mereka untuk meniti karier atau menghasilkan sebuah prestasi, mereka justru seringkali dimanfaatkan atau dimanipulasi oleh orang-orang lain. Tapi kembali kepada faktor campur tangan Tuhan yang tadi saya sebutkan, tidak bisa tidak, ini memiliki peranan yang sangat besar. Saya menyadari dan saya mengamati ada cukup banyak orang yang selama sekian waktu lamanya terus menerus ‘ditindas’ atau dimanfaatkan. Akan tetapi mereka terus konsisten dengan ketulusan dan kejujuran mereka dan nilai-nilai hidup ilahi yang mereka miliki, sehingga sebagai akiabtnya, Tuhan pun tidak tinggal diam – Tuhan mulai mempromosikan mereka pada waktu yang Dia tetapkan sendiri. Mungkin orang menyebutnya dengan istilah ‘keberuntungan’ atau kebetulan saja, tapi saya mengamati bahwa rata-rata orang-orang yang tulus itu mengalami pengalaman yang sama, sehingga akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa itu bukan sekedar faktor keberuntungan tapi itu adalah campur tangan Tuhan. Karena itu saya juga ingin menghimbau Heart listeners yang mungkin sampai hari ini masih terus bergumul dan berjuang untuk bisa mempertahkan ketulusan, kejujuran, dan nilai-nilai hidup yang luhur yang Anda sudah miliki: jangan pernah mengorbankan itu semua. Karena saya percaya bahwa orang-orang yang jahat yang selama ini memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi dan dengan menghalalkan segala cara, tidak akan pernah kekal. Kita pasti sudah pernah melihat kenyataannya: ada banyak orang yang kelihatannya sukses tapi hidupnya justru hancur-hancuran – malam tidak bisa tidur, keluarganya tidak harmonis, ia selalu sakit-sakitan.

Host : Baik, sekarang kita akan membahas beberapa sms yang sudah masuk. Ada beberapa pertanyaan di sini, pertanyaan yang pertama berbunyi seperti ini: bagaimana cara yang terbaik untuk mencapai kesuksesan sejati? Tolong berikan langkah praktisnya.
Narasumber : Memang seringkali seseorang mengalami kesulitan untuk bisa mengetahui cara yang terbaik untuk mengalami kesuksesan, karena ada banyak sekali contoh buruk dari orang-orang yang mengaku sukses, tetapi sebetulnya mereka belum mencapai kesuksesan yang sejati, karena setiap kali kita berbicara tentang kesuksesan sejati, kita selalu berbicara tentang adanya prestasi yang sudah dimunculkan, adanya pengenalan tujuan hidup, sehingga prestasi yang kita raih itu tidak kita nikmati sendiri tapi justru bisa dinikmati oleh banyak orang yang lain. Kalau kita bicara tentang cara yang terbaik untuk meraih kesuksesan, hal pertama yang bisa saya sebutkan adalah cobalah untuk mengenali minat yang Anda miliki terlebih dahulu, karena kesuksesan itu memiliki berbagai macam fase. Ada orang yang bisa sukses di dunia pendidikan tetapi mengalami kegagalan total dalam dunia bisnis. Mengapa? Karena orang tersebut tidak memiliki minat untuk berdagang, sehingga secara otomatis dia tidak akan sukses di bidang itu. Sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang mungkin sangat menyukai bisnis, sehingga ketika ia dipaksakan untuk sekolah, ia justru merasa terkekang. Karena itu, kita perlu belajar mengenali minat kita terlebih dahulu, karena dengan kita mengenali minat kita, kita akan bisa langsung mengenali adanya orang-orang yang sudah meraih keberhasilan dan memunculkan prestasi yang unggul di dalam minat yang sama seperti yang kita ingin masuki. Contohnya, jika kita berminat untuk mempelajari basket, maka Michael Jordan akan menjadi nama yang akan langsung kita ingat. Dengan kita bisa mengenali orang-orang yang sudah sukses di bidang yang kita ingin masuki, kita bisa mulai memperhatikan bagaiman orang tersebut mengembangkan kapasitasnya sampai ia bisa mencapai kesuksesan yang sedemikian rupa. Dengan kita mengikuti proses-proses latihan yang sama, saya yakin kitapun akan bisa memunculkan prestasi yang sama seperti orang yang kita kagumi tersebut. Karenanya, saya ingin memberikan penegasan lebih lanjut, untuk kita bisa meraih kesuksesan, yang pertama adalah: kenali minat kita terlebih dahulu, lalu yang kedua: belajarlah dari orang-orang yang sudah sukses di bidang tersebut, dan yang ketiga: jika kita ingin bisa melampaui kesuksesan dari orang yang kita kagumi itu, kita perlu belajar untuk menginovasi apa yang dia sudah lakukan, sehingga kitapun akan bisa meraih hasil yang lebih maksimal.

Host : Oya, tadi Bapak juga sempat menyebutkan tentang fighting spirit, Pak – tekad atau semangat yang kuat. Mungkin Heart listeners ada yang bertanya-tanya, bagaimana cara membangun fighting spirit ini, Pak.
Narasumber : Apabila kita ingin memiliki tekad yang bulat, kita bisa mendapatkannya melalui dua cara yang sederhana: yang pertama, kita perlu mendisiplin diri kita secara konsisten, yang kedua, kita berusaha meneladani sikap hati orang-orang yang sudah suskes. Kalau kita mengamati orang-orang yang telah berhasil memunculkan prestasi-prestasi yang gemilang dan meraih kesuksesan sejati, saya mendapati bahwa pada umumnya mereka adalah orang-orang yang mau untuk belajar, mau berubah, dan siap untuk dikoreksi. Selain itu, mereka juga adalah orang-orang yang sangat disiplin dan sangat menghargai waktu. Saya seringkali mengamati bahwa orang yang tidak memiliki tekad yang besar biasanya memiliki sifat pemalas. Jika kita mau merombak sifat malas kita dan kita mau berubah dan mendisiplin diri, cepat atau lambat fighting spirit itu pasti akan muncul dalam diri kita. Karenanya, jangan pernah menyerah!

Host : Kita akan menjawab sms berikutnya, Pak. Pertanyaannya adalah: ada orang-orang yang meraih prestasi dan kekayaan oleh karena warisan dari keluarga (tanpa usaha keras). Apakah mereka juga bisa dikategorikan sebagai orang yang sukses meskipun tanpa kerja keras?
Narasumber : Mungkin saya bisa katakan bahwa menerima warisan itu bukan sebuah prestasi; menerima warisan adalah sebuah anugerah karena kita mungkin dilahirkan dalam sebuah keluarga yang cukup berada. Bagaimana kita bisa mengaitkan orang-orang yang menerima warisan ini dengan kesuksesan? Apakah orang yang menerima warisan juga bisa dikategorikan orang sukses? Apabila kita betul-betul ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat luas, berarti warisan yang kita terima harus kita multiplikasikan, baru kita bisa disebut sebagai orang yang berprestasi dan masyarakat luaspun akan memberikan pengakuan mereka.

Host : Baik, kita pindah ke pertanyaan berikutnya: kesuksesan sejati teruji dengan apa?
Narasumber : Kesuksesan seseorang selalu diuji dengan waktu dan diuji dengan berbagai peristiwa yang ia alami dalam hidupnya. Memang seringkali agak sulit untuk membedakan mana orang-orang yang betul-betul sukses dan mana orang-orang yang sukses dengan mempergunakan cara-cara yang justru akan menjadi bumerang di kemudian hari. Kembali saya ingin menggarisbawahi peranan ‘God-factor’ dalam hal ini, karena saya tetap percaya bahwa orang-orang yang tulus dan yang memiliki nilai-nilai hidup yang luhur akan selalu mendapatkan kesuksesan yang permanen dan tidak akan bisa dengan mudah digoncang. Dan saya mendapati bahwa bagi orang-orang yang memang memiliki kapasitas, ujian dan goncangan sebesar apapun yang mereka alami justru hanya akan menambah deretan kesuksesan dalam hidupnya. Itu sebabnya, untuk kita bisa disebut sebagai orang yang sukses, kita tidak perlu memfokuskan diri kepada pengakuan masyarakat atau mencoba memaksakan agar status sosial kita berubah. Jika kita ingin meraih kesuksesan sejati, kita hanya perlu belajar mengenali dulu tujuan hidup kita dan kemudian meleburkan diri dalam tujuan hidup itu, untuk dapat memunculkan prestasi-prestasi yang pada akhirnya akan dapat dinikmati bukan hanya oleh diri kita sendiri tetapi oleh masyarakat luas.

Host : Berarti ‘God-factor’ yang tadi Bapak sebutkan sungguh-sungguh memegang peranan yang sangat penting ya, Pak?
Narasumber : ‘God-factor’ memang memegang peranan yang sangat penting, tapi peranan Tuhan juga membutuhkan respon dari manusia. Apabila kita sendiri tidak memiliki skill dan kemampuan, maka walaupun Tuhan ikut campur tangan, saya percaya kesuksesan itu hanya sesaat. Itu sebabnya, campur tangan Tuhan juga harus diresponi dengan kemauan kita untuk terus mengembangkan kapasitas dan mengembangkan prestasi-prestasi dalam hidup ini.

Host : Kalau begitu, apa hubungan antara ‘God-factor’ ini dengan kesempatan, Pak?
Narasumber : Apabila kita mendapati ada cukup banyak kesempatan yang terbuka di depan mata kita, saya mungkin bisa menyebut itu sebagai sebuah keberuntungan, karena ada banyak orang yang mencoba untuk mencari kesempatan, tetapi mereka tidak menemukan kesempatan itu. Karena adanya campur tangan Tuhan, kita bisa melihat ada cukup banyak kesempatan yang muncul dalam hidup kita. Apabila kita ingin untuk bisa mengenali kesempatan yang manakah yang harus kita ambil dari sekian banyaknya kesempatan agar kita bisa mencapai kesuksesan yang sejati, maka ada sebuah tips sederhana yang bisa saya bagikan, yang pertama: kembali lagi, kenali dulu minat Anda. Dengan Anda bisa mengenali minat yang Anda miliki, maka untuk mengembangkan kapasitas Anda dalam minat tersebut, Anda tidak perlu mengeluarkan energi ganda karena Anda akan bisa menikmati masa-masa pengembangan kapasitas itu.

Host : Wah, menarik sekali topik kita hari ini dan sangat membuka wawasan masyarakat luas, Pak. Sayang sekali waktu kita sangat terbatas, mungkin Bapak bisa memberikan kesimpulan dari apa yang sudah kita perbincangkan hari ini?
Narasumber : Heart listeners, jangan pernah tergoda untuk mencapai kesuksesan dengan menghalalkan segala cara dan jangan tergoda untuk mencapai kesuksesan dengan instan, kaerna kesuksesan sejati tidak akan pernah bisa diraih secara instan. Teruslah belajar mengembangkan kemampuan, kapasitas, dan skill yang Anda miliki, sehingga Andapun akan mulai memunculkan prestasi-prestasi yang mengagumkan dan perubahan status sosial akan mulai terjadi, dan pada akhirnya pengakuan dari masyarakat luas bahwa Anda adalah orang yang sukses akan Anda dapatkan.

Host : Sebagai penutup, kita akan mendengar pesan inspirasional hari ini sebagai berikut:
Narasumber : Nilai-nilai dan filosofi hidup yang kita miliki memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kita melihat kesuksesan. Ketika Anda memiliki nilai-nilai dan filosofi hidup yang luhur, Anda pasti tidak akan memandang kesuksesan hanya berdasarkan perubahan status sosial belaka atau dari pengakuan masyarakat yang selama ini mungkin diidam-idamkan oleh orang banyak. Ketika Anda memiliki nilai-nilai dan filosofi hidup yang luhur, Anda akan memandang kesuksesan sebagai memunculkan prestasi dan memastikan prestasi yang Anda raih tersebut bisa dinikmati oleh orang banyak. Jadi, pastikan Anda memiliki nilai-nilai dan filosofi hidup yang ilahi.

12 April 2007

Tidak Ada Jalan Yang Rata Untuk Sukses

Di pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.

Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.

Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya "Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung".
Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.
"Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?"
"Kalau saya memilih sebelah kiri?"
"Sebelah kiri melewati banyak bebatuan." Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.
"Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?"

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, "Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?"
"Jika aku memilih jalan sebelah kanan?"
"Sebelah kanan banyak semak berduri." Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.

Dengan kelelahan si pemuda berkata, "Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung."

Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas "Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?”

Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab "Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.

Dengan senyum puas si kakek berkata, "Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!
Tidak ada jalan yang rata untuk sukses!

Sama seperti analogi Proses pencapaian mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan, Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan, kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita lemah, takut tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan.
Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang, barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.

11 April 2007

Sukses dan Perubahan

KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!

Kehidupan terus menerus berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Apa pun yang kita tekuni, baik itu di dunia bisnis, politik, jasa, atlit ataupun profesional dan bidang-bidang lainnya. Semua kondisi itu selalu dalam keadaan berubah terus menerus, demikian pula dengan kondisi sukses atau gagal yang kita alami hari ini, semuanya tidak tetap selalu berubah dari saat ke saat.

Kita ambil contoh: Jika hari ini kita mengalami kegagalan, bukan berarti besok tetap gagal. Asal tahu di mana letak kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki, maka usaha kita selanjutnya memungkinkan untuk merubah kegagalan menjadi kesuksesan. Namun, kalau kita tidak berusaha untuk bangkit dari kegagalan, maka kondisi gagal akan semakin membawa kita pada keterpurukan, frustasi dan depresi. Yang pada akhirnya, hanya mampu menghibur diri sendiri dengan apatis dan berkata; “Ya.... kegagalanku ini memang sudah nasibku.”

Lalu bagaimana dengan kondisi sukses yang kita miliki saat ini? Apakah kondisi sukses ini juga berubah? Jawaban saya jelas: Pasti berubah!

Kesuksesan yang telah kita raih hari ini, tidak berarti besok kita akan tetap sukses!

Karena dalam kenyataannya, para pesaing kita, baik yang telah kita kenal, kita ketahui atau yang baru muncul dan tidak kita ketahui, mereka semua melakukan aktivitasnya dengan segenap kemampuan dan berbagai cara untuk mengembangkan usaha mereka secara maksimal. Kalau kesuksesan yang yang telah kita raih membuat kita manja, lengah dan angkuh, maka bisa dipastikan secara berangsur angsur kita akan mengalami kemunduran. Kenapa bisa mundur? Ya karena kondisi itu terus berubah, mempertahankan kesuksesan jauh lebih sulit dari pada menciptakannya, begitu kita manja, semangat menjadi kendor.

Supaya kesuksesan yang telah kita raih tetap berada di genggaman kita, kita harus melakukan persiapan yang dibutuhkan dan sikap mental yang mau tetap belajar dalam memoles diri. Kita juga harus siap berjuang dengan lebih keras lagi. Hanya dengan cara seperti itu minimal kita tetap eksis dengan kesuksesan yang telah kita dapatkan dan maksimal kita akan meraih sukses yang lebih luar biasa!

Tentu tidak menjadi berlebihan untuk selalu mengingatkan pada diri sendiri, bahwa:

KESUKSESAN HARI INI TIDAK BERARTI
BESOK KITA AKAN MERAIH SUKSES LAGI,
TANPA KESIAPAN DAN BERJUANG LEBIH KERAS,
MAKA KESUKSESAN SULIT KITA PERTAHANKAN!!

Selamat berjuang! Sukses untuk kita semua!!!

Sumber : Andrie Wongso (www.pembelajar.com)

Manusia Optimis vs Manusia Pesimis

ORANG OPTIMIS BUKANLAH ORANG YANG KARENA MELIHAT JALAN MULUS DI HADAPANNYA, TETAPI ORANG YANG YAKIN 100% DAN BERANI UNTUK MENGATASI SETIAP TANTANGAN YANG MENGHADANG.

Ada 2 macam manusia dalam menyikapi hidup ini, satu sikap orang yang pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis.

Tipe pertama orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, kepercayaan dirinya mudah goyah dan mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan dengan menyalahkan keadaan dan orang lain sebagai proteksi untuk membenarkan dirinya sendiri, padahal di dalam dirinya dia tahu bahwa betapa rapuh mentalnya, orang pesimis lebih percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau nasib semata.

Tentu orang dengan sikap mental pesimis seperti ini, dia telah mengidap penyakit miskin mental, jika mental kita sudah miskin, maka tidak akan mampu menciptakan prestasi yang maksimal dan mana mungkin nasib jelek bisa dirubah menjadi lebih baik.

Tipe ke 2 adalah orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap. orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam melaksanakan apa yang harus diperjuangkan, orang optimis tahu dan sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang!


Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tau ada proses pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami.


Tentu orang yang punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki kekayaan mental. dan Hanya orang yang mempunyai kekayaan mental, yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik.

Jika anda, saya dan kita semua secara bersama-sama mampu membangun kekayaan mental dengan berkesinambungan, mampu menjalani hidup ini dengan optimis dan aktif, tentu secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan kita pribadi serta kehidupan keluarga, dan dari kehidupan keluarga -keluarga yang semangat, optimis dan aktif akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan sinergi sebagai kontributor dalam membangun Indonesia sekaligus mengembalikan jati diri bangsa! Kalau bukan kita yang membangun Indonesia, lalu siapa?

Sumber : Andrie Wongso (www.pembelajar.com)

Sifat Kepiting

Saat menjelang malam hari di tepi pantai, terlihat para nelayan melakukan kegiatan, yakni menangkap kepiting yang biasanya keluar dari sarang mereka di malam hari. Kepiting-kepiting yang ditangkap oleh nelayan, sebagian kecil akan menjadi lauk santapan sekeluarga, sebagian besar akan di bawa ke pengumpul atau langsung ke pasar untuk di jual.

Para nelayan itu memasukkan semua kepiting hasil tangkapan mereka ke dalam baskom terbuka. Menariknya, baskom tersebut tidak perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri dari situ. Ada yang menarik dari tingkah laku kepiting-kepiting yang tertangkap itu. Mereka sekuat tenaga selalu berusaha keluar dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat, tetapi jika ada seekor kepiting yang nyaris meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan berusaha keras menarik kembali ke dasar baskom. Begitulah seterusnya, sehingga akhirnya tidak ada seekor kepiting pun yang berhasil kabur dari baskom. Sebab itulah para nelayan tidak membutuhkan penutup untuk mencegah kepiting keluar dari baskom. Dan kemudian mati hidupnya si kepiting pun ditentukan keesokan harinya oleh si nelayan.

Sungguh menarik kisah dari sifat kepiting tadi, mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Kadang tanpa disadari, manusia bertingkah laku seperti kepiting di dalam baskom. Saat ada seorang teman berhasil mendaki ke atas atau berhasil mencapai sebuah prestasi, yang seharusnya kita ikut berbahagia dengan keberhasilan itu, tetapi tanpa sadar, kita justru merasa iri, dengki, marah, tidak senang, atau malahan berusaha menarik atau menjatuhkan kembali ke bawah. Apalagi dalam bisnis atau bidang lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, tidak mau kalah akan semakin nyata dan bila tidak segera kita sadari, kita telah menjadi monster, mahluk yang menakutkan yang akhirnya akan membunuh hati nurani kita sendiri.

Gelagat manusia yang mempunyai sifat seperti halnya sifat kepiting yaitu :

1. Selalu sibuk merintangi orang lain yang akan menuju sukses sehingga lupa berusaha untuk memajukan diri sendiri.

2. selalu mencari dan menyalahkan pihak di luar dirinya.


Tidak perlu cemas dengan keberhasilan orang lain, tidak perlu ada menyimpan iri hati apalagi tindakan yang bermaksud menghalangi teman atau orang lain agar mereka tidak maju. Buang pikiran negatif seperti itu!

Karena sesungguhnya, di dalam persaingan bisnis atau persaingan di bidang apa pun, tidak peduli berakhir dengan kemenangan atau kekalahan, masing-masing dari kita mempunyai hak untuk sukses!

Success is our right! Jika kita bisa menyadari bahwa Success is our right, sukses adalah hak kita semua!, maka secara konsekuen kita bisa menghargai setiap keberhasilan orang lain, bahkan selalu siap membantu orang lain untuk mencapai kesuksesannya. Untuk itu, dari pada mempunyai niat menghalangi atau menjatuhkan orang lain, jauh lebih penting adalah kita siap berjuang dan sejauh mana kita sendiri mengembangkan kemampuan dan potensi kita seutuhnya. Sehingga hasil yang akan kita capaipun akan maksimal dan membanggakan!

Sumber : Andrie Wongso (www.pembelajar.com)

Ads Inside Post